Senin, 17 September 2012

makalah hipotermi pada bayi


BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas layanan kesehatan semakin hari semakin meningkat. Ini didorong berbagai perubahan mendasar di masyrakat baik ekonomi,pendidikan ,teknologi dan informasi serta berbagai perubahan lainnya.tidak terkecuali perubahan tuntutan masyarakat terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan termasuk layanan kebidanan. Salah satu layanan kebidanan yang memerlukan peningkatan kualitas layanan adalah pelayanan asuhan terhadap bayi hipotermia.
Kehidupan bayi baru lahir yang paling kritis adalah saat mengalami masa transisidari kehidupan intrautern ke kehidupan ekstrauterin. Slah satu yang menjadi masalah yang dialami bayi pada masa transisi ini adalah hipotermia. Hipotermia yaitu penurunan suhu tubuh bayi dibawah suhu normal.
Hipotermia menggambarkan keadaan di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu yang kewalahan dalam menghadapi stressor dingin. Hipotermia diklasifikasikan sebagai kebetulan atau disengaja, primer atau sekunder, dan dengan tingkat hipotermia.
Terkadang hipotermia umumnya hasil dari paparan yang tak terduga pada orang yang tidak cukup siap; contoh termasuk tempat penampungan tidak memadai untuk seorang tunawisma, seseorang terjebak dalam badai musim dingin atau kecelakaan kendaraan bermotor, atau seorang penggemar olahraga outdoor tertangkap basah oleh unsur-unsur. Disengaja hipotermia adalah sebuah negara diinduksi umumnya diarahkan pada pelindung saraf setelah situasi berisiko (biasanya setelah serangan jantung, lihat Hipotermia Terapi ). hipotermia Primer adalah karena paparan lingkungan, dengan tidak ada kondisi medis yang mendasari menyebabkan terganggunya pengaturan suhu. hipotermia sekunder adalah suhu tubuh yang rendah akibat penyakit medis menurunkan suhu titik setel.
Banyak pasien telah pulih dari hipotermia parah, sehingga pengenalan dini dan inisiasi prompt dari pengobatan yang optimal adalah yang terpenting.
Hipotermia sistemik juga dapat disertai oleh luka dingin lokal
Peran bidan sangat diperlukan untuk mencengah terjadinya risiko hipotermia pada bayi.seorang bidan itu harus memiliki pengetahuan yng luas,sikap dan keterampilan dalam melakukan asuhan untuk mencengah terjadinya hal yang tidak diinginkan.
Bayi yang mengalami hipotermia mempunyai risiko tinggi terhadap kematian sehingga memerlukan pengawasan oleh perawatan yang ketatdari tenaga kesehatan yang berpengalaman dan berkualitas tinggi.
Berdasarkan latar belakang di atas,maka kami tertarik utuk membahas tentang masalah hipotermia pada bayi dan mengenai asuhan kebidanan pada hipotermia.
1.2 Angka Kejadian
 Berdasarkan perkiraan World Health Organitation (WHO) hampir semua (98%) dari lima juta kematian neonatal terjadi di negara berkembang. Lebih dari dua pertiga kematian itu terjadi pada periode neonatal dini dan 42% kematian neonatal disebabkan infeksi seperti: sepsis, tetanus neonatorum, meningitis, pneumonia, dan diare. (Imral chair, 2007)
Laporan WHO tahun 2005 angka kematian bayi baru lahir di Indonesia adalah 20 per 1000 kelahiran hidup. Jika angka kelahiran hidup di Indonesia sekitar 5 juta per tahun dan angka kematian bayi 20 per 1000 kelahiran hidup, berarti sama halnya dengan setiap hari 246 bayi meninggal, setiap satu jam 10 bayi Indonesia meninggal, jadi setiap enam menit satu bayi Indonesia meninggal. (Roesli Utami, 2008) Menurut DEPKES RI angka kematian sepsis neonatorum cukup tinggi 13-50% dari angka kematian bayi baru lahir. Masalah yang sering timbul sebagai komplikasi sepsis neonatorum adalah meningitis, kejang, hipotermi, hiperbilirubinemia, gangguan nafas, dan minum.(Depkes, 2007)
Di negara berkembang termasuk Indonesia, tingginya angka morbiditas dan mortalitas Bayi Baru Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi masalah utama. Penyebab utama mortalitas BBLR di negara berkembang adalah asfiksia, sindrom gangguan nafas, infeksi, serta komplikasi hipotermi. Di Indonesia sekitar 70% persalinan terjadi di pedesaan dan di tolong oleh dukun bayi, mungkin pula ditolong oleh mertua, anggota keluarga yang lain atau tetangga. Faktor utama yang memberikan peluang terjadinya kematian neonatus di rumah adalah kegagalan untuk mengenal faktor resiko tinggi pada kehamilan, persalinan, periode neonatus dan tidak merujuk pada saat yang tepat. Upaya perawatan BBLR dengan praktek “metode botol panas dan bedong” serta praktek tradisional lainnya yang bersifat pendekatan supernatural, terbukti tidak dapat membantu bahkan seringkali memberikan dampak buruk terhadap kondisi fisik bayi, seperti kasus luka bakar akibat teknologi pemanasan dengan lampu petromaks. (Bangun lubis, 2008).Menurut dr. Imral Chair SpA(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan ketua I Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinsia) dalam seminar “Orientasi Metode Kanguru” yang diselenggarakan Forum Promosi Kesehatan Indonesia, bayi premature maupun bayi cukup bulan yang lahir dengan berat badan rendah, terutama di bawah 2000 gram, terancam kematian akibat hipotermi yaitu penurunan suhu badan di bawah 36,50c disamping asfiksia dan infeksi. (Imral Chair,2007)
Untuk mengetahui kematian perinatal diperlukan tindakan bedah mayat, karena bedah mayat sangat susah dilakukan di Indonesia maka kematian janin dan neonatus hanya didasarkan pada pemeriksaan klinik laboratorium. Dengan dasar pemeriksaan itu, sebab utama kematian perinatal di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta adalah infeksi, asfiksia neonatorum, trauma, kelahiran, cacat bawaan, penyakit yang berhubungan prematuritas, immaturitas, dan lain-lain. (Sarwono, 2002)
Infeksi pada neonatus merupakan sebab yang penting terhadap terjadinya morbiditas dan mortalitas selama periode ini. Lebih kurang 2% janin dapat terinfeksi in utero dan 10% bayi baru lahir terinfeksi selama persalinan atau dalam bulan pertama kehidupan. (Rachma, 2005)

Angka kejadian sepsis neonatorum masih cukup tinggi dan merupakan penyebab kematian utama pada neonatus. Hal ini dikarenakan neonatus rentan terhadap infeksi. Kerentanan neonatus terhadap infeksi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kulit dan selaput lendir yang tipis dan mudah rusak, kemampuan fagositosis dan leukosit immunitas masih rendah. Immunoglobulin yang kurang efisien dan luka umbilikus yang belum sembuh. Bayi dengan BBLR lebih mudah terkena sepsis neonatorum. Tindakan invasif yang dialami neonatus juga meningkatkan resiko terjadinya infeksi nasokomial. (Surasmi, 2003)

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang termuat dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Memberi pengetahuan pada pembaca.
2.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan hipotermia dan patofisiologi hipotermia.
3.      Menjelaskan etiologi dan tanda serta gejala hipotermia.
4.      Menjelaskan komplikasi dan penatalaksanaan hipotermia.
5.      Menjelaskan apa saja asuhan kebidanan pada hipotermia.









BAB II
Tinjauan Kasus
2.1 Definisi Hipotermia
Beberapa definisi hipotermia dari beberapa sumber
1.      Menurut Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo (2001),bayi hipotermia adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal.adapun suhu normal pada neonatus adalah  36,5o-37,5o C. Gejala awal pada hipotermi apabila suhu <36o C atau kedua kaki dan tangan  teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi sudah  mengalami hipotermia sedang (suhu 320-36o C). Disebut hipotermia berat bila suhu <32o C diperlukan termometer ukuran rendah yang dapat mengukur sampai 25o C.
2.      Menurut Indarso F( 2001),disamping sebagai suatu gejala,hipotermia merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
3.      Menurut Sandra M.T (1997),hipotermi yaitu suatu kondisi dimana suhu tubuh inti turun sampai dibawah 35o C.
2.2 Patofisiologi Hipotermia
Suhu inti tubuh diatur secara ketat dalam "zona thermoneutral" antara 36,5 ° C dan 37,5 ° C, di luar yang biasanya tanggapan thermoregulatory diaktifkan. Tubuh mempertahankan suhu inti yang stabil melalui produksi menyeimbangkan panas dan kehilangan panas. Pada saat istirahat, manusia menghasilkan 40-60 kilokalori (kkal) dari panas per meter persegi luas permukaan tubuh melalui generasi oleh metabolisme sel, yang paling menonjol di hati dan jantung. Meningkatkan produksi panas dengan kontraksi otot lurik, menggigil meningkatkan laju produksi panas 2-5 kali.
Kehilangan panas terjadi melalui beberapa mekanisme, yang paling signifikan yang  di bawah kondisi kering, adalah radiasi (55-65% dari kehilangan panas). Konduksi konveksi dan account untuk sekitar 15% dari kehilangan panas tambahan, dan respirasi dan account penguapan untuk sisanya. Konduktif dan kehilangan panas konvektif, atau transfer langsung dari panas ke benda atau sirkulasi udara, masing-masing  adalah penyebab paling umum dari hipotermia disengaja. Konduksi adalah mekanisme sangat signifikan kehilangan panas menenggelamkan / perendaman kecelakaan sebagai konduktivitas termal air hingga 30 kali dari udara.
Hipotalamus mengontrol termoregulasi melalui konservasi panas meningkat (vasokonstriksi perifer dan tanggapan perilaku) dan produksi panas (menggigil dan meningkatkan tingkat tiroksin dan epinefrin). Perubahan dari SSP dapat mengganggu mekanisme ini. Ambang batas untuk menggigil adalah 1 derajat lebih rendah dari vasokonstriksi dan dianggap mekanisme upaya terakhir oleh tubuh untuk menjaga suhu. Mekanisme untuk pelestarian panas dapat kewalahan dalam menghadapi stres dingin dan suhu inti bisa drop sekunder untuk kelelahan atau glikogen deplesi.
Hipotermia mempengaruhi hampir semua sistem organ. Mungkin efek paling signifikan terlihat pada sistem kardiovaskular dan SSP. Hipotermia menyebabkan depolarisasi penurunan sel pacu jantung, menyebabkan bradikardi. Karena bradikardia ini tidak vagally dimediasi, dapat refrakter terhadap terapi standar seperti atropin. Berarti tekanan arteri dan penurunan curah jantung, dan elektrokardiogram (EKG) mungkin menunjukkan karakteristik gelombang J atau Osborne (lihat gambar di bawah). Sementara umumnya terkait dengan hipotermia, gelombang J mungkin varian normal dan terlihat kadang-kadang dalam sepsis dan iskemia miokard.
Aritmia atrium dan ventrikel dapat hasil dari hipotermia; detak jantung dan fibrilasi ventrikel telah dicatat untuk mulai secara spontan pada suhu inti di bawah 25-28 ° C.
Hipotermia semakin menekan SSP, SSP metabolisme menurun secara linear sebagai inti tetes suhu. Pada suhu inti kurang dari 33 ° C, aktivitas otak listrik menjadi abnormal; antara 19 ° C dan 20 ° C, sebuah electroencephalogram (EEG) mungkin muncul konsisten dengan kematian otak. Jaringan mengalami penurunan konsumsi oksigen pada suhu yang lebih rendah, itu tidak jelas apakah hal ini karena penurunan tingkat metabolisme pada suhu lebih rendah atau afinitas hemoglobin yang lebih besar untuk oksigen digabungkan dengan ekstraksi oksigen gangguan jaringan hipotermia.
Istilah "inti suhu setelah drop" mengacu pada penurunan lebih lanjut dalam suhu inti dan kerusakan klinis yang terkait pasien setelah rewarming telah dimulai. Teori saat ini fenomena didokumentasikan adalah bahwa sebagai jaringan perifer hangat, vasodilatasi memungkinkan darah dingin pada ekstremitas untuk mengedarkan kembali ke inti tubuh. Mekanisme lain mungkin sedang berlangsung juga. Beberapa percaya bahwa turun setelah paling mungkin terjadi pada pasien dengan radang dingin atau hipotermia lama.
2.3 Etiologi Hipotermia
Penyebab terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :
1.      Jaringan lemak subkutan tipis.
2.      Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.
3.      Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.
4.      Bayi baru lahir tidak ada respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan.
5.      Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang berisiko tinggi mengalami hipotermia.
6.      Bayi dipisahkan dari ibunya segera mungkin setelah lahir.
7.      Berat lahir bayi yang kurang dan kehamilan prematur.
8.      Tempat melahirkan yang dingin.
9.      Bayi asfiksia,hipoksia,resusitasi yang lama,sepsis,sindrom dengan pernapasan,hipoglikemia perdarahan intra kranial.
Faktor pencetus hipotermia menurut Depkes RI,1992 :
a)      Faktor lingkungan.
b)      Syok.
c)      Infeksi. 
d)     Gangguan endokrin metabolik.
e)      Kurang  gizi
f)       Obat-obatan.
g)      Aneka cuaca.
Mekanisme hilangnya panas pada bayi yaitu :
1.      Radiasi adalah panas yang hilang dari objek yang hangat (bayi) ke objek yang dingin. Misal BBL diletakkan ditempat yang dingin.
2.      Konduksi adalah pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin. Misal popok atau celana basah tidak langsung diganti.
3.      Konveksi adalah hilangnya panas dari bayi ke udara sekelilingnya. Misal BBL diletakkan dekat pintu atau jendela terbuka.
4.      Evaporasi adalah hilangnya panas akibat penguapan dari air pada kulit bayi misalnya cairan amnion pada bayi.
2.4 Tanda dan Gejala
Berikut beberapa gejala bayi terkena hipotermia,yaitu :
1.      Suhu tubuh bayi turun dari normalnya.
2.      Bayi tidak mau minum atau menetek.
3.      Bayi tampak lesu atau mengantuk saja.
4.      Tubub bayi teraba dingin.
5.      Dalam keadaan berat denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh mengeras (sklerema).
6.      Kulit bayi berwarna merah muda dan terlihat sehat.
7.      Lebih diam dari biasanya.
8.      Hilang kesadaran.
9.      Pernapasannya cepat.
10.  Denyut nadinya melemah.
11.  Gangguan penglihatan.
12.  Pupil mata melebar (dilatasi) dan tidak bereaksi.
Berikut adalah tanda terjadinya hipotermia
Tanda-tanda hipotermia sedang :
a)      Aktifitas berkurang,letargis.
b)      Tangisan lemah.
c)      Kulit berwarna tidak rata (cutis malviorata).
d)     Kemampuan menghisap lemah.
e)      Kaki teraba dingin.
f)       Jika hipotermia berlanjut akan timbul cidera dingin.
Tanda-tanda hipotermia berat :
a)      Aktifitas berkurang,letargis.
b)      Bibir dan kuku kebiruan.
c)      Pernafasan lambat.
d)     Bunyi jantung lambat.
e)      Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolik.
f)       Risiko untuk kematian bayi.
Tanda-tanda stadium lanjut hipotermia :
a)      Muka,ujung kaki dan tangan berwarna merah terang.
b)      Bagian tubuh lainnya pucat.
c)      Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung,kaki dan tangan(sklerema).
2.5 Komplikasi
1.      Hipotermia berat.
2.      Ikterus.
2.6 Penatalaksanaan Umum
1.      Penanganan hipotermia secara umum untuk bayi
Pengaturan suhu tubuh bayi belumlah terkendali dengan baik. Bayi bisa kehilangan suhu tubuh secara cepat dan terkena hipotermi dalam kamar yang dingin. Bayi yang mengalami hipotermi harus dihangatkan secara bertahap. Berikut beberapa cara penanganan hipotermia untuk bayi :
a)      Hangatkan bayi secara bertahap. Bawalah ia ke ruangan yang hangat. Bungkuslah tubuhnya dengan selimut tebal.
b)      Pakaikan topi dan dekaplah si kecil agar ia menjadi hangat oleh panas tubuh anda.
2.   Penanganan hipotermia secara umum untuk balita
a)      Jika ia mampu melakukannya,minta anak berendam air hangat. Bila warna kulitnya telah kembali normal,segera keringkan dan bungkus tubuhnya dengan handuk tebal atau selimut.
b)      Kenakan pakaian tebal dan baringkan anak di tempat tidur. Pakaikan selimut yang cukup banyak. Tutupi kepalanya dengan topi atau pastikan suhu dalam ruangan cukup hangat. Temani anak.
c)      Berikan anak minuman hangat dan makanan penuh energi,misalnya cokelat. Jangan tinggalkan anak sendirian,kecuali anda yakin warna kulit dan suhu tubuhnya telah kembali normal.
Dan ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :
1.      Jangan menempelkan sumber panas langsung,seperti botol berisi air panas ke kulit anak. Anak harus menjadi hangat secara bertahap.
2.      Jika anak hilang kesadaran,bukalah saluran udaranya dan periksa pernapasannya. Jika anak bernapas,baringkan ia pada posisi pemulihan,jika tidak bernapas,mulailah bantuan pernapasan dan kompresi dada. Telepon Ambulans.
2.7  Penatalaksanaan oleh bidan di desa
Suhu normal pada neonatus berkisar 360-37,50 C (suhu ketiak). Gejala awal hipotermia ialah apabila suhu > 36o C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin,maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang ( suhu 32o-<36oC) . Disebut hipotermia kuat bila suhu tubuh < 32o C. Untuk mengukur suhu pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang dapat mengukur samapai 25o C. Di samping sebagai suatu gejala,hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang dapat berakhir kematian.
2.7.1  Ada prinsip dasar untuk mempertahankan suhu tubuh bayi baru lahir,yaitu :
a)      Mengeringkan bayi segera setelah lahir
Bayi lahir dengan tubuh basah oleh air ketuban. Aliran udara melalui jendela/pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh. Akibatnya dapat timbul serangan dingin (cold stress) yang merupakan gejala awal hipotermia. Bayi kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena kontrol suhunya masih belum sempurna. Hal ini menyebabkan gejala awal hipotermia seringkali tidak terdeteksi oleh ibu atau keluarga bayi atau penolong persalinan.
Untuk mencengah terjadinya serangan dingin setiap bayi lahir harus segera dikeringkan dengan handuk yang kering dan bersih (sebaiknya handuk tersebut dihangatkan terlebih dahulu). Mengeringkan tubuh bayi harus dilakukan dengan cepat.dimulai dari kepala kemudian seluruh tubuh bayi. Handuk yang basah harus diganti dengan handuk lain yang kering dan hangat.
b)      Setelah tubuh bayi kering segera dibungkus dengan selimut,diberi tepi atau tutup kepala,kaos tangan dan kaki. Selanjutnya bayi diletakkan telungkup di atas dada ibu untuk mendapatkan kehangatan dari dekapan ibu.
c)      Memberi ASI sedini mungkin segera setelah melahirkan agar dapat merangsang rooting refleks dan bayi mendapat kalori.
d)     Mempertahankan bayi tetap hangat selama dalam perjalanan pada waktu merujuk.
e)      Memberikan penghangatan pada bayi  baru lahir secara mandiri.
f)       Melatih semua orang yang terlibat dalam pertolongan persalinan. 
g)      Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh bayi stabil.
    Untuk mencengah terjadinya serangan dingin ibu atau keluarga dan penolong persalinan harus menunda memandikan bayi
1.      Pada bayi lahir sehat yaitu lahir cukup bulan,berat>2.500 gram,langsung menangis kuat,memandikan bayi ditunda selama kurang lebih 24 jam setelah kelahiran. Pada saat memandikan bayi gunakanlah air hangat.
2.      Pada bayi lahir dengan risiko (tidak termasuk kriteria di atas),keadaan umum bayi lemah atau bayi dengan berat lahir < 2.000 gram sebaiknya bayi jangan dimandikan ditunda beberapa hari sampai keadaan umum membaik yaitu bila suhu tubuh bayi stabil,bayi sudah lebih kuat dan dapat menghisap ASI dengan baik.
h)      Tindakan pada hipotermia bayi baru lahir
1.      Bayi yang mengalami hipotermi biasanya mudah sekali meninggal. Tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghangatkan bayi di dalam inkubator atau melalui penyinaran lampu.
2.      Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan oleh setiap orang adalah menghangatkan bayi melalui panas tubuh ibu. Bayi diletakkan telungkup di dada ibu agar terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi. Untuk menjaga bayi tetap hangat,tubuh ibu dan bayi harus berada di dalam 1 pakaian (merupakan teknologi tepat guna baru) disebut sebagai metode Kanguru. Sebaiknya ibu menggunakan pakaian longgar berkancing depan.
3.      Bila tubuh bayi masih dingin,gunakanlah selimut atau kain hangat  yang diseterika terlebih dahulu yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu. Lakukanlah berulang kali sampai tubuh bayi hangat.
4.      Biasanya bayi hipotermia menderita hipoglikemia sehingga bayi harus diberi ASI sedikit-sedikit sesering mungkin. Bila bayi tidak mengisap beri infus glukosa 10 % sebanyak 60-80 ml/kg per hari.

















BAB III
Penerapan Asuhan Kebidanan
Asuhan Kebidanan Neonatus
I. PENGUMPULAN DATA DASAR
Tanggal 2 Oktober 2007
A. Identitas Bayi
Nama Anak : Bayi Ny. “H”
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir : 2 Oktober 2007
Jam : 09.30 WIB
Anak : Kedua
Alamat : Jalan Sudirman no 220 RT 02/RW 04
Identitas Ibu dan Bapak
Nama Ibu : Ny. “H”                                                      Nama Ayah : Tn.“S”
Umur : 25 tahun                                                            Umur : 27 tahun
Pendidikan : SMP                                                         Pendidikan : SMP
Suku : Jawa                                                                   Suku : Jawa
Agama : Islam                                                               Agama : Islam
Pekerjaan : IRT                                                             Pekerjaan : Wiraswasta

1. Riwayat persalinan sekarang
Usia kehamilan : 38 minggu
Lama persalinan
Kala I : 8 jam
Kala II : 30 menit
Kala III : 20 menit
Kala IV : 2 jam
Jumlah : 10 jam 50 menit
2. Jumlah perdarahan
Kala I : Blood slym
Kala II : 50 cc
Kala III : 150 cc
Kala IV : 250 cc
Jumlah : 450 cc
3. Keadaan air ketuban : Jernih
4. Waktu pecahnya ketuban : 08.00 WIB dengan amniotomi
5. Jenis persalinan : Sponta pervaginam
6. Lilitan tali pusat : Tidak ada
7. Episiotomi : Tidak ada

B. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Composmentis
3. Tanda-tanda vital :
S: 35,7o C                 RR : 60 x/menit
BB : 2900 gram       N : 130 x/menit
Aktivitas : lemah
Daya hisap : lemah
Ekstrimitas : membiru
Refleks : lemah
APGAR SCORE
Menit I         A : 1                 Menit V           A : 1
                     P : 2                                          P : 2
                     G : 1                                         G : 2
                     A : 1                                         A : 1
                     R : 1                                         R : 2
Jumlah 6 7
4. Kepala
  a. UUB : rata, berdenyut
  b. UUK : cembung
  c. Moulage : tidak ada
  d. Caput succedeneum : tidak ada
  e. Bentuk kepala : bulat, simetris
5. Mata
   a. Bentuk : simetris kanan – kiri
   b. Strabismus : tidak ada
   c. Pupil mata : peka terhadap rangsang cahaya
   d. Skelera : tidak ikterik
   e  Keadaan : bersih
   f. Bulu mata : ada
   g. Konjungtiva : agak pucat
6. Hidung
a. Bentuk : simetris kanan-kiri
b. Luka hidung : bersih, tidak ada pengeluaran sekret
c. Pernapasan cuping hidung : tidak ada
7. Mulut
a. Bentuk : simetris
b. Palatum : tidak ada palotoskisis
c. Gusi : licin, agak pucat
d. Refleks hisap : lemah
e. Bibir : tidak ada skisis
8. Telinga
a. Posisi : simetris
b. Keadaan : bersih tidak ada pengeluaran serumen
9. Leher
Pergerakan leher : leher tampak ekstensi bila badan diangkat
10. Dada
a. Posisi : simetris
b. Mamae : ada
c. Suara nafas : tidak ada ronchi dan hwezing pernapasan belum teratur
11. Perut
Bentuk : normal, tidak ada pembesaran, tali pusat masih basah
12. Genetalia
a. Jenis kelamin : perempuan
b. Anus : ada
13. Ekstremitas
a. Bentuk : simetris, ujung-ujung membiru
b. Jari kaki : lengkap
c. Jari tangan : lengkap
d. Aktivitas : lemah, tampat mengantung
14. Kulit : turgor jelek, berwarna tidak rata (cutis marviorata)
15. Refleks
a. Menghisap (sucking) : lemah
b. Menggenggam (graping) : ada
c. Refleks kaki (staping) : ada
d. Refleks moro : ada
16. Ukuran antropometri
BB : 2900 gram                     PB : 45 cm
Lila : 8 cm                             LK : 33 cm
LD : 30 cm

II. INTERPRETASI DATA DASAR
1. Diagnosa
Bayi baru lahir dengan hipotermi sedang
Dasar :
a. Suhu 35.70C
b. APGAR SCORE 6/7
c. Ekstrimitas membiru
d. Kedua kaki teraba dingin
e. Kulit terdapat bercak merah
f. Menangis lemah
g. Tampak mengantuk tetapi masih bisa dibangunkan
h. Aktivitas lemah
i. Tali pusat masih basah

2. Masalah
a. Nutrisi tidak adequat
Dasar : Daya isap bayi terhadap ASI lemah
b. Keterbatasan aktifitas
Dasar :
1) Aktifitas lemah
2) Tampak mengantuk tapi masih bisa dibangungkan
3) Menangis lemah
c. Ketidaknyamanan pada bayi
Dasar :
1) Bayi menggigil
2) Nadi cepat
d. Resiko infeksi
Dasar : tali pusat masih basah

3. Kebutuhan
a. Segera hangatkan bayi
Dasar :
1) Suhu 35,70 C
2) APGAR Score 6/7
3) Ektrimitas membiru
4) Kedua kaki teraba dingin
5) Kulit terdapat bercak merah
6) Menangis lemah
7) Tampak mengantuk tetapi masih bisa dibangunkan
8) Aktivitas lemah
b. Pemberian nutrisi
Dasar :
1) Bayi belum mendapatkan asupan nutrisi
2) Turgor kulit jelek
3) Refleks gerak bayi berkurang
4) Bayi menangis lemah
5) Bayi tampak mengantuk
c. Pemenuhan lingkungan yang nyaman
Dasar :
1) Bayi belum dibersihkan
2) Bayi menggigil
d. Perawatan tali pusat
Dasar : tali pusat masih basah

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
1. Potensial terjadi hipotermi berat
Dasar :
a. Suhu 35,7 0C
b. Apgar Score 6/7
c. Turgor buruk
d. Bayi belum mendapat asupan nutrisi
e. Bayi menggigil
f. Nadi cepat

2. Hipoglikemi
Dasar : Bayi belum mendapat asupan nutrisi

3. Potensial terjadi asfiksia
Dasar :
a. Apgar Score 6 / 7
b. RR : 60 x/menit
c. N : 130 x/menit
d. Ekstrimitas : membiru

IV. KEBUTUHAN INTERVENSI DAN KOLABORASI SEGERA
Beri tahu keluarga tentang persiapan rujukan apabila keadaan bayinya semakin buruk.

V. RENCANA MANAGEMEN
1. Hangatkan tubuh bayi
a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya mempertahankan suhu tubuh bayi
b. Ajarkan pada ibu tentang cara menghangatkan bayi
c. Anjurkan pada ibu untuk melakukan teknik penghangatan pada bayi baru lahir
d. Observasi kemampuan ibu dalam melakukan teknik penghangatan
e. Libatkan keluarga atau suami dalam membantu ibu melakukan teknik penghangatan
2. Pemberian ASI
a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya ASI bagi bayi
b. Ajarkan pada ibu tentang untuk menyusui yang benar
c. Anjurkan pada ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin
d. Observasi kemampuan ibu dalam membantu ibu menyusui bayinya
e. Libatkan keluarga atau suami dalam membantu ibu menyusui bayinya
3. Menjaga personal hygiene bayi
a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya pemeliharaan kebersihan bayi
b. Ajarkan pada ibu tentang cara memandikan bayi
c. Anjurkan pada ibu untuk menjaga kebersihan bayinya
d. Observasi kemampuan ibu dalam menjaga kebersihan bayinya
e. Libatkan keluarga atau suami dalam membantu ibu menjaga kebersihan bayinya.
4. Pemantauan bayi baru lahir
a. Jelaskan pada ibu mengenai tanda bahaya bayi baru lahir
b. Ajarkan pada ibu tentang penanganan dini terhadap tanda bahaya bayi baru lahir
c. Libatkan anggota keluarga lainnya dalam memantau keadaan bayi baru lahir

VI. PELAKSANAAN
1. Menghangatkan tubuh bayi
a. Bayi dipakaikan topi atau kain untuk menjaga kepala tetap hangat
b. Menggunakan popok yang dilapisi plastik sehingga bayi mendapat sumber panas terus menerus
c. Mengganti kain/pakaian/popok yang basah dengan yang kering
d. Kontak langsung kulit ibu dengan kulit bayi diantara bagian tubuh bayi dengan dada dan perut ibu dalam baju kanguru
2. Melakukan perawatan kebersihan bayi baru lahir
a. Segera mengeringkan tubuh bayi dengan handuk kering, bersih dan hangat
b. Menunda memandikan bayi kira-kira 24 jam setelah kelahiran
c. Merawat tali pusat
d. Memandikan dengan mandi kering
3. Membantu ibu menyusui bayinya kepanpun ketika bayi mau menyusui
4. Melakukan pemantauan bati baru lahir
a. Pantau kemampuan menghisap
b. Keaktifan bayi
c. Pantau keadaan umum bayi seperti suhu, BB, nadi, pols
5. Menjelaskan tanda dan bahaya pada bayi baru lahir
a. Pernapasan sulit (lebih dari 60 x/menit), < 30 x/mnt, > 60 x/mnt.
b. Suhu tubuh terlalu rendah ( < 36 0C)
c. Warna kulit terutama 24 jam pertama, biru/pucat
d. Menghisap lemah, banyak muntah, mengantuk berlebihan
e. Aktivitas (bayi menggigil, menangis lemah, badan lemas dan kejang)

VII. EVALUASI
1. Ibu mau menghangatkan bayinya dengan metode kanguru
2. Bayi mau diberi/mendapatkan ASI meskipun sedikit-sedikit
3. Bayi dalam keadaan bersih
4. Pakaian/popok selalu dalam keadaan kering
5. Tanda-tanda vital
Suhu : 36 0 C
Nadi : 120 x/menit
RR : 40 x/menit

CATATAN PERKEMBANGAN HARI KE-2
Tanggal 3-10-2007 jam : 09.00 WIB
S : Ibu mengatakan bayi minum ASI kuat
O :
1. Bayi baru lahir hari ke-2
2. Keadaan umum bayi baik
3. Tali pusat masih basah
4. Tanda-tanda vital
Suhu : 36,5 0C
Nadi : 135 x/menit
RR : 40 x/menit
A :
1. Diagnosa
Bayi baru lahir ke-2
Dasar :
a. Bayi baru lahir tanggal 2-10-2007 pukul 09.30 WIB
b. Keadaan umum baik
c. Tali pusat masih basah
d. Tanda-tanda vital
Suhu : 36,5 0C
Nadi : 135 x/menit
RR : 40 x/menit
2. Masalah
Potensial terjadi infeksi tali pusat
Dasar : tali pusat masih basah
3. Kebutuhan
a. Penyuluhan tentang perawatan tali pusat dengan teknik aseptik dan antiseptik
b. Penyuluhan tentang pemberia ASI
c. Penyuluhan tentang personal hygiene/kebersihan tubuh

P :
1. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara ekslusif selama 6 bulan
2. Beritahu pada ibu mengenai tanda-tanda bahaya pada BBL
3. Evaluasi cara perawatan kebersihan bayi baru lahir
4. Libatkan keluarga dalam menjaga kestabilan suhu badan bayi baru lahir

CATATAN PERKEMBANGAN HARI KE-7
Tanggal 9-10-2007 jam : 09.00 WIB
S :
1. Ibu mengatakan bayinya sudah dapat menghisap ASI kuat
2. Ibu mengatakan bayinya BAK dan BAB
3. Ibu mengatakan sudah bisa melakukan perawatan pada bayinya dan tali pusat sudah puput
O :
1. BB : 3000 gram
Pols : 138 x/menit
RR : 40 x/menit
Temp : 36.50 C
Lila : 9 cm
2. Refleks menghisap (+), ASI diberikan setiap bayi menangis, ASI sudah mulai banyak
3. Tali pusat masih basah
4. Eliminasi BAK 6-7 x/hari, BAB 3 x/hari
A :
1. Diagnosa
Bayi baru lahir ke-7
Dasar : Bayi lahir spontan tanggal 2-10-2007 pukul 09.30 WIB
2. Masalah
Untuk sementara tidak ada
3. Kebutuhan
a. Penyuluhan tentang pemberian ASI ekslusif dan mencegah infeksi pada bayi baru lahir dengan perawatan teknik septik dan antibiotik
b. Pesonal hygiene
c. Penyuluhan pemberian imunisasi dini

P :
1. Pantau keadaan umum bayi
2. Anjurkan pada ibu untuk memberikan ASI eksluif selama 6 bulan dan melakukan pencegahan infeksi pada bayi baru lahir
3. Anjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene dan perawatan bayi baru lahir
4. Anjurkan pada ibu untuk memberikan ASI setiap mau menyusui


CATATAN PERKEMBANGAN HARI KE-14
Tanggal 16-10-2007 jam : 09.00 WIB
S :
1. Ibu mengatakan berat badan bayi bertambah
2. Ibu mengatakan bayinya sudah mulai aktif
O :
1. BB : 3300 gram
Pols : 130 x/menit
RR : 34 x/menit
Temp : 36,5 0C
Lila : 9 cm
2. Refleks menghisap (+)
Refleks sucking (+)
Refleks stapping (+)
Refleks moro (+)
3. ASI diberikan setiap bayi mau/menangis dan ASI sangat lancar
4. Eliminasi BAK 6-7 x/hari, BAB 3 x/hari
A :
1. Diagnosa
Bayi baru lahir ke-14
Dasar : bayi baru lahir spontan tanggal 2-10-2007 pukul 09.30 WIB
2. Masalah
Untuk sementara tidak ada
3. Kebutuhan
a. Penyuluhan tentang perawatan bayi sehari-hari dirumah
b. Penyuluhan tentang nutrisi yag adequat
P :
1. Anjurkan pada ibu untuk mnejaga personal hygiene bagi bayinya
2. Anjurkan pada ibu untuk tetap memberikan ASI ekslusifnya
3. Anjurkan ibu untuk melakukan perawatan bayi sehari-hari dengan benar
4. Anjurkan pada ibu untuk membawa anaknya ke posyandu






BAB IV
Penutup
Kesimpulan
Hipotermia adalah suatu kondisi dimana suhu tubuh inti turun sampai dibawah 35o C.
Penyebab terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :
1.      Jaringan lemak subkutan tipis.
2.      Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.
3.      Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.
4.      Bayi baru lahir tidak ada respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan.
5.      Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang berisiko tinggi mengalami hipotermia.
6.      Bayi dipisahkan dari ibunya segera mungkin setelah lahir.
7.      Berat lahir bayi yang kurang dan kehamilan prematur.
8.      Tempat melahirkan yang dingin.
9.      Bayi asfiksia,hipoksia,resusitasi yang lama,sepsis,sindrom dengan pernapasan,hipoglikemia perdarahan intra kranial.
Mekanisme hilangnya panas pada bayi yaitu :
Radiasi adalah panas yang hilang dari objek yang hangat (bayi) ke objek yang dingin.
Konduksi adalah pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin.
Konveksi adalah hilangnya panas dari bayi ke udara sekelilingnya.
Evaporasi adalah hilangnya panas akibat penguapan dari air pada kulit bayi
Berikut beberapa gejala bayi terkena hipotermia,yaitu :
1.      Suhu tubuh bayi turun dari normalnya.
2.      Bayi tidak mau minum atau menetek.
3.      Bayi tampak lesu atau mengantuk saja.
4.      Tubub bayi teraba dingin.
5.      Dalam keadaan berat denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh mengeras (sklerema).
6.      Kulit bayi berwarna merah muda dan terlihat sehat.
7.      Lebih diam dari biasanya.
8.      Hilang kesadaran.
9.      Pernapasannya cepat.
10.  Denyut nadinya melemah.
11.  Gangguan penglihatan.
12.  Pupil mata melebar (dilatasi) dan tidak bereaksi.
Ada prinsip dasar untuk mempertahankan suhu tubuh bayi baru lahir,yaitu :
1. Mengeringkan bayi segera setelah lahir
2. Setelah tubuh bayi kering segera dibungkus dengan selimut,diberi tepi atau tutup kepala,kaos tangan dan kaki. Selanjutnya bayi diletakkan telungkup di atas dada ibu untuk mendapatkan kehangatan dari dekapan ibu.
3. Memberi ASI sedini mungkin segera setelah melahirkan agar dapat merangsang rooting refleks dan bayi mendapat kalori.
4. Mempertahankan bayi tetap hangat selama dalam perjalanan pada waktu merujuk.
5. Memberikan penghangatan pada bayi  baru lahir secara mandiri.
6. Melatih semua orang yang terlibat dalam pertolongan persalinan. 
7. Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh bayi stabil.
Tindakan pada hipotermia bayi baru lahir
1. Bayi yang mengalami hipotermi biasanya mudah sekali meninggal. Tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghangatkan bayi di dalam inkubator atau melalui penyinaran lampu.
2. Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan oleh setiap orang adalah menghangatkan bayi melalui panas tubuh ibu. Bayi diletakkan telungkup di dada ibu agar terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi. Untuk menjaga bayi tetap hangat,tubuh ibu dan bayi harus berada di dalam 1 pakaian (merupakan teknologi tepat guna baru) disebut sebagai metode Kanguru. Sebaiknya ibu menggunakan pakaian longgar berkancing depan.
3. Bila tubuh bayi masih dingin,gunakanlah selimut atau kain hangat  yang diseterika terlebih dahulu yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu. Lakukanlah berulang kali sampai tubuh bayi hangat.























Daftar Pustaka
1.      Hapsari,RW.2009.Makalah Termoregulasi Pada Bayi Baru Lahir (Perlindungan Termal). Jakarta : http://superbidan.wordpress.com  (diakses tanggal 13 oktober 2011 jam 12.05 WIB)
2.      2009. Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir dengan Hipotermi Sedang Terhadap Bayi. Jakarta : http://d3kebidanan.blogspot.com (diakses tanggal  15 oktober 2011 jam 16.53 WIB)
3.      2011. Hipotermia .Jakarta : http//www.scrib.com(diakses tanggal 13 Oktober 2011 jam 20.05 WIB).   
4.      Getty.2011.Bila Bayi Alami Hipotermia. Jakarta : http://lifestyle.okezone.com (diakses tanggal 15 Oktober 20011 jam 17.00 WIB)
5.      www.indonesiaindonesia.com (diakses tanggal 15 Oktober 2011 jam 17.24 WIB).
6.      Ronaldo.2009.”Pertolongan Pertama untuk Bayi dan Anak “ (terjemahan). Jakarta (halaman 90-91)
7.      “Penanganan Esensial dasar Kegawat-Daruratan Obstetri dan Bayi Baru Lahir”. Jakarta (halaman 75-76)
8.      Saifudin,Abdul Bari,George Adriaansz,Gulardi Hanifa Wiknjosastro,Djoko Waspodo.2009.”Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta (halaman372-374).
9.      Wiknjosastro,Gulardi H,George Adriaansz,Omo Abdul Madjid,R.Soerjo Hardjono,J.M.Seno Adjie.2008.”Asuhan Persalinan Normal”.Jakarta( Halaman 123-126).
10.  Maslichah.2011.”Hipertermi dan hipotermi”. Bandung : http//maslichah05.wordpress.com(diakses tanggal 18 Oktober 2011 jam 17.25 WIB).








                                                                                                               







                                                                               









METODE KANGURU







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar